Sebuah kisah dalam memilih Pemimpin

Posted by Noer Rachman Hamidi on Saturday, June 14, 2014

Pilpres sebentar lagi, itu artinya akan ada perhelatan akbar di negeri ini untuk menentukan siapa yang kelak menahkodai Indonesia, khususnya umat islam yang merupakan umat mayoritas di negeri ini. Tahun ini, hanya ada dua kandidat pasangan capres dan cawapres. Masing-masing dari pasangan tersebut memiliki basis massa yang berbeda-beda. Prabowo-Hatta dengan koalisi merah putihnya, didominasi oleh partai yang berlatar belakang "partai islam". Sedangkan Jokowi-JK, didukung oleh partai nasionalis berbasis sekuler, walaupun ada juga satu partai yang katanya berbasis islam yang memberikan dukungannya kepada pasangan Jokowi-JK.

Pada kedua pasangan capres dan cawapres tersebutlah, rakyat Indonesia menaruh harapan. Rakyat berharap, siapapun pemimpinnya, yang penting mampu memberikan rasa aman, kesejahteraan, serta keadilan kepada mereka.

Pertanyaannya, mungkinkah hal itu dapat terwujud ? Kita lihat saja nanti.

Ah, mungkin masih terasa dalam ingatan kita tentang satu nama seorang pemimpin umat, yang pada masa pemerintahannya tak ditemukan kemiskinan. Bahkan, penjara pun sepi dari para pelaku tindak kejahatan. Dialah Umar bin Abdul Aziz.

Seorang pemimpin dari kalangan Bani Umayyah. Beliau adalah pemimpin yang menebarkan keadilan, memberikan rasa aman, serta mampu mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya.

***

Kala itu, ketika dirinya baru saja dilantik menjadi khalifah, datanglah sejumlah pengawal dengan membawakan kendaraan khusus untuk khalifah. Ketika kendaraan itu sudah tiba dihadapan, sang halifah justru berpaling darinya, dan lebih memilih untuk menaiki kendaraannya yang lama. Al Hakam bin Umar berkata " Saya menyaksikan orang-orang yang datang dengan kendaraan khusus kepada Umar bin Abdul Aziz saat dia diangkat menjadi khalifah. namun dia justru berkata "kirim kendaraan-kendaraan itu ke pasar, dan juallah, kemudian hasil dri penjualannya simpanlah di baitul mal. Aku, cukup naik kendaraanku ini saja".

Umar bin Abdul Aziz merupakan pemimpin yang takut kepada Tuhannya. Saking takutnya terhadap Sang Maha Khaliq, dia senantiasa menitikan air mata disepanjang harinya. Beliau mengkhawatirkan tentang kepemimpinannya. Beliau khawatir, jika ada sebagian dari rakyatnya yang merasakan ketidakadilan karena kepemimpinannya.

Fathimah, istri Umar bin Abdul Aziz pernah menemui suaminya dalam keadaan menangis, hingga airmatanya berlinang membasahi janggutnya. Umar bin Abdul Aziz berkata kepada istrinya, "Wahai Fathimah, sesungguhnya saya memikul beban umat Muhammad dari yang hitam sampai yang merah. Dan saya memikirkan persoalan orang-orang fakir dan kelaparan, orang yang sakit dan telantar, orang yang tidak punya pakaian dan orang yang tersisihkan, yang teraniaya dan yang terintimidasi, yang terasing dan yang ditawan, yang tua dan yang jompo, yang memiliki banyak kerabat, namun hartanya sedikit, dan orang-orang yang serupa dengan itu di seluruh pelosok negeri. Saya sadar dan tahu, bahwa Tuhanku akan menanyakan kelak di Hari kiamat. Saya khawatir, saat itu saya tidak memiliki alasan buat Tuhanku. Maka, menangislah saya"

Begitulah, ketika pemimpin suatu negeri mendahulukan rasa takut kepada Tuhannya, maka disaat yang bersamaan, dia pun akan selalu berusaha memenuhi amanahnya kepada rakyat yang dipimpinnya, terlebih lagi janji kepada Tuhannya.

Pada masa kepemimpinan beliau, rakyatnya tidak merasakan kelaparan, negerinya makmur, semua berkat ketaatan pemimpin, dan ketundukan rakyatnya terhadap aturan Allah swt.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…(Al A'raaf : 96)

Kita butuh pemimpin yang menirukan apa yang Umar bin Abdul Aziz lakukan. Benar-benar merakyat tanpa dibuat-buat, benar-benar dapat mensejahterakan tanpa pencitraan.

Umar bin Abdul Aziz sangat menyadari kedudukan beliau sebagai sorang pemimpin. Seperti yang pernah disampaikan oleh kakek buyutnya yang juga seorang pemimpin, Umar bin Khatab ra. bahwasannya beliau pernah berkata "pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya". Itulah konsep seorang pemimpin dalam islam. pemimpin yang melayani, bukan pemimpin yang selalu minta untuk dimengerti oleh rakyatnya.

Kenaikan BBM, rakyat yang disuruh mengerti, aset negara dijual ke asing rakyat pun disuruh untuk mengerti. Hingga kemiskinan yang merajarela pun rakyat yang disuruh untuk mengerti dengan kondisi pemimpinnya saat ini. Ingat, Umar bin Abdul Aziz dapat membangun negerinya dengan penuh keadilan dan kemakmuran, hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 tahun. Di Indonesia, 32 tahun kepemimpinan otoriter rezim Soeharto, dan 10 tahun kepemimpinan era demokrasi pasca reformasi yang dipegang oleh SBY, tetap tak dapat menjadikan negeri ini makmur, adil, sejahtera. Karena memang, para pemimpin yang pernah menahkodai negeri ini, mengesampingkan rasa takutnya kepada Allah swt. dan justru takut kepada penguasa asing pengusung kapitalisme.

Kekayaan alam negeri ini, bukan dikelola secara mandiri, agar hasilnya kelak dikembalikan kepada rakyat, tapi yang ada malah diberikan kepada pihak asing.

Riba dimana-mana seakan menjadi hal yang halal, padahal itu jelas diharamkan. Praktek prostitusi menjadi barang yang mudah untuk ditemukan di negeri ini, bahkan dipelihara sebagai aset penghasilan lewat pajak bangunan yang digunakan sebagai tempat mesum tersebut. Kepemimpinan ala demokrasi, pada akhirnya hanya akan menghasilkan pemimpin yang menjadi jongos para kapitalis.

Bangsa ini butuh seorang pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz, dengan sistem pemerintahan yang juga mendukung untuk menghasilkan pemimpin semacam beliau. Hanya dengan khilafah islam lah yang memungkinkan lahirnya sosok pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz. Bukan dari sistem demokrasi, yang memasung hak-hak Tuhan sebagai pengatur dan pencipta alam semesta beserta hukum-hukum yang terdapat didalamnya.

Berikut adalah khutbah yang disampaikan oleh Umar bin Abdul Aziz tatkala dirinya dibai'at sebagai khalifah :

"Wahai hadirin sekalian, sesungguhnya tidak ada satu kitab suci apapun setelah Al-Qur'an, dan tidak akan ada Nabi setelah Muhammad. Ketahuilah bahwa saya bukan pembuat undang-undang. Saya hanyalah orang yang melaksanakan dan bukan pula orang yang membuat ajaran-ajaran baru (bid'ah), saya hanyala sebagai pengikut.

Saya bukan sebagai orang yang terbaik diantara kalian, justru saya adalah orang yang memikul beban demikian berat. Sesungguhnya seorang yang melarikan diri dari pemimpin yang zhalim, dia bukanlah orang yang zhalim. Ketahuilah, bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk apabila dia berada dalam maksiat".

Semoga kita dapat mengerti, bahwa perkara kepemimpinan bukanlah perkara yang sepele. Ini adalah perkara yang kelak akan menentukan baik atau buruknya suatu bangsa.

Ingatlah, bahwa sumber kebaikan, hanya datang dari Allah swt, Tuhan semesta alam. Peraturan yang baik, adalah peraturan yang berjalan sesuai dengan aturan-Nya. Dan pemimpin yang baik, adalah pemimpin yang ingin menerapkan syariat-Nya.

Kita semua merindukan sosok seperti Umar bin Abdul Aziz, guna mengatur urusan umat ini menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Bukan pemimpin yang hadir lewat pencitraan, atau pemimpin yang hanya datang bila ada kepentingan.

Bijaklah dalam memilih pemimpin, pilihlah pemimpin yang mau menerapkan syariat islam secara kaffah. Bila tak ada pemimpin yang seperti itu, maka berdiam dari memilih pemimpin yang sama-sama tidak takut kepada Tuhannya, adalah lebih baik, sekalipun memilih pemimpin yang kecil mudharatnya. Ketahuilah, dalam demokrasi tak ada yang kecil mudharatnya, karena sesungguhnya, demokrasi itu sendiri merupakan kemudharatan yang besar.

Sumber cerita : Tarikh Khulafa – Imam As Suyuthi‎ Description: Sebuah kisah dalam memilih Pemimpin
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Sebuah kisah dalam memilih Pemimpin
Kami akan sangat berterima kasih apabila anda menyebar luaskan artikel Sebuah kisah dalam memilih Pemimpin ini pada akun jejaring sosial anda, dengan URL : http://www.noer-rachman.biz/2014/06/sebuah-kisah-dalam-memilih-pemimpin.html

Bookmark and Share

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah