Strategi mengatasi ketahanan pangan mandiri

Posted by Noer Rachman Hamidi on Tuesday, August 6, 2013


Dengan alasan karena tidak terkendalinya harga barang-barang kebutuhan pokok, berbagai media pagi ini memberitakan keputusan pemerintah untuk menurunkan harga dengan cara menambah supply. Tetapi karena supply dalam negeri dipandang tidak memadai, supply yang digenjot adalah impor.

Maka dibukalah impor untuk barang-barang kebutuhan pokok seperti bawang merah, cabai dan daging sapi. Kalau ini hanya dilakukan kali ini, mudah dimengerti karena bisa jadi inilah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh saat ini untuk meredam gejolak harga di pasar. Tetapi kita tentu berharap pemerintah punya strategy jangka panjangnya – agar tidak lagi kita mendengar petani dan peternak kita terpojokkan dan kalah bersaing dengan produk-produk impor yang kerannya sengaja dibuka dengan berbagai alasan seperti kepepet kali ini.

Lebih jauh lagi, dalam dua tahun mendatang pintu AEC (ASEAN Economic Community) akan terbuka. Petani dan peternak kita akan head to head dengan para petani dan peternak dari Thailand, Vietnam dlsb. yang sangat berambisi memperluas pasarnya. Jangan sampai AEC nanti justru menjadi salah satu penyebab utama yang dominan – bagi inflasi kebutuhan pokok kita yang tidak terkendali,

Tidak hanya menjadi tugas pemerintah untuk mencegah hal tersebut terjadi, rakyat seperti kita juga harus bisa ikut berbuat. Bisa dengan meningkatkan produksi atas bahan-bahan kebutuhan pokok kita sendiri, ataupun mulai men-diversifikasi bahan pangan utama kita dlsb.

Kita harus bisa berfikir out of the box, misalnya mumpung ini di bulan puasa – mengapa tidak kita mulai membiasakan makan kurma sehingga tidak lagi tergantung pada bawang dan cabe ?. Bukan berarti kita harus meninggalkan makanan pokok lainnya, tetapi dengan mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka dengan kurma saja akan menurunkan demand terhadap makanan tradisional kita. Ketika demand turun, harga akan otomatis turun – dan ini kebaikan untuk semuanya.

Tentu saja belajar makan kurma ini harus juga dibarengi dengan belajar menanamnya, agar kelak ketika demand sudah tinggi kita juga sudah harus bisa memproduksinya sendiri.

Demikian pula untuk daging, mengapa tidak kita mulai makan daging dari gembalaan para nabi yaitu kambing ?, mengapa harus daging sapi ?. Lagi-lagi bukan berarti daging sapi harus ditinggalkan sama-sekali, tetapi ketika sebagian demand itu pindah sebagian ke daging kambing – harga daging sapi akan turun – lagi-lagi kebaikan untuk semuanya. InsyaAllah !.

Yuk, kita belajar bersama www.agribisnis-indonesia.com untuk bersama-sama kita membangun kemakmuran umat di negara yang sudah seharusnya hijau royo-royo ini.
Wallahu A'lam.
www.rumah-hikmah.com Description: Strategi mengatasi ketahanan pangan mandiri
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Strategi mengatasi ketahanan pangan mandiri
Kami akan sangat berterima kasih apabila anda menyebar luaskan artikel Strategi mengatasi ketahanan pangan mandiri ini pada akun jejaring sosial anda, dengan URL : http://www.noer-rachman.biz/2013/08/strategi-mengatasi-ketahanan-pangan.html

Bookmark and Share

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah