Kita sendiri yang harus merubah nasib...

Posted by Noer Rachman Hamidi on Tuesday, August 6, 2013


Ada dua unsur utama ekonomi yang penting, yaitu sisi penguasaan produksi dan sisi penguasaan pasar. Di jaman Rasulullah; penguasaan produksi dimiliki oleh Kaum Anshor dan penguasaan pasar dimiliki oleh Kaum Muhajirin.

Pada umat yang mayoritas Umat Muslim ini, untuk produksi kita masih dijejali dengan berbagai produk orang lain, sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Bangun tidur kita langsung mencari HP produk Amerika, Canada, Finlandia, Jepang, Korea ataupun yang dari China.

Duduk di meja makan, sarapan pagi kita makan mie atau roti yang bahan baku terigunya 100% impor. Makan nasi pakai tempe, tetapi sebagian beras dan kedelainya juga impor.

Begitu seterusnya menjelang tidur nonton berita dahulu dari televisi produksi Jepang, Korea atau China lagi. Berselimut di kamar yang sejuk dengan AC produksi Jepang, Korea atau China lagi. Ironinya ketika kedinginan, kemulan dengan selimut tebal juga dari China.

Tidak masalah memang menggunakan produk impor, tidak juga haram karena memang kita diciptakan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal – dan tentunya juga saling bermuamalah. Masalahnya adalah ketika muamalah itu lebih berat ke satu arah, maka negeri yang kaya sumber daya alam bisa ketinggalan jauh dalam hal kemakmurannya.

Penguasaan pasar yang canggih oleh bangsa lain dalam system perdagangan internasional yang membuat ekonomi kita lebih condong pada ekonomi konsumsi ketimbang ekonomi produksi, inilah yang membuat keunggulan sumber daya alam maupun sumber daya manusia kita menjadi tidak terolah secara optimal.

Dengan laut kita yang sangat kaya, bumi kita yang sangat subur lengkap dengan manusianya yang banyak yang cerdas-cerdas – mestinya kita berpeluang untuk menjadi negara yang makmur – Sejak dulu kita tahu bumi kita ini adalah bumi yang gemah ripah loh jiawi, tongkat dan kayupun jadi tanaman, sungai dan lautannya adalah ‘kolam susu’ ?.

Tetapi kalau realitanya rata-rata penduduk negeri ini berpenghasilan dibawah nishab zakat, pasti ada yang salah dalam pengelolaan kekayaan yang melimpah di sekitar kita – yang membuat kita seperti itik yang merana di lumbung padi.

Lantas siapa yang bisa membuat perubahan atas situasi ini? Jawabannya adalah ya kita sendiri. Marilah kita renungkan ayat ini:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Keunggulan-keunggulan di negeri ini berjibun, mulai dari ilmu pengetahuan, kekayaan alam, keragaman budaya, keindahan alam, luasnya lautan, keaneka ragaman hayati, letak geografis dlsb.dlsb. Hanya saja keunggulan-keunggulan tersebut masih berdiri sendiri-sendiri, belum cukup tangan-tangan terampil yang merangkainya menjadi mata rantai sukses bagi negeri.

Karena sukses itu tidak bisa sendirian, maka berjama’ah membangun sukses itu menjadi suatu keharusan. Kita harus menggabung mata rantai-nya, sambil mentadaburi ayat-ayatNya – kita merangkai jalan untuk bisa sukses di dunia dan di akhirat. InsyaAllah !.
Agribisnis Indonesia & Manufaktur Indonesia Description: Kita sendiri yang harus merubah nasib...
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Kita sendiri yang harus merubah nasib...
Kami akan sangat berterima kasih apabila anda menyebar luaskan artikel Kita sendiri yang harus merubah nasib... ini pada akun jejaring sosial anda, dengan URL : http://www.noer-rachman.biz/2013/08/kita-sendiri-yang-harus-merubah-nasib.html

Bookmark and Share

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah