Kisah sebuah Koin Penyok

Posted by Noer Rachman Hamidi on Wednesday, April 6, 2016


Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu.

Ia membungkuk & menggerutu kecewa. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok."

Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank. "Sebaiknya koin ini dibawa ke kolektor uang kuno", kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dirham

Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dirham untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dirham untuk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.

Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu & menawarnya 200 dirham Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dirham. Lelaki itupun setuju.

Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dirham.

Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya,

"Apa yang terjadi?

Engkau baik-baik saja kan?

Apa yang diambil perampok tadi?"

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".

Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang & pergi kita tidak membawa apa-apa.

Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas.

Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini?

Tidak ada, karena bahkan napas kita saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.

Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah.

Saat kehilangan sesuatu, kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa. Jadi "kehilangan" itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan. Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran yang penuh dengan ke"aku"an. Ke"aku"an itulah yang membuat kita menderita.

Rumahku, hartaku, istriku, suami ku, anakku. Lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak bawa apa-apa dan tidak ajak siapa-siapa.

Pada waktunya "let it go", siapapun yang bisa MELEPAS, tidak melekat, tidak menggenggam erat, maka dia akan BAHAGIA .

Semoga bermanfaat...

Description: Kisah sebuah Koin Penyok
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Kisah sebuah Koin Penyok
SelengkapnyaKisah sebuah Koin Penyok

Resolusi Hidup Sehat

Posted by Noer Rachman Hamidi on Tuesday, April 5, 2016


Dalam tubuh rata-rata manusia hidup sekitar 100 trilyun bakteri, mereka hidup dari ujung rambut kita sampai ujung kaki, dari kulit terluar kita sampai organ paling dalam dari tubuh kita. Apakah dengan ini kita akan sangat mudah sakit ? justru dengan memahami keberadaan mereka, insyaAllah kita akan jauh lebih mudah sehat. Seperti populasi manusia, mayoritas manusia itu sebenarnya asalnya baik. Demikian pula bakteri, ada bakteri pathogen – pembawa penyakit, tetapi bila populasi bakterinya normal – yang pathogen ini akan mudah ditumpas oleh bakteri yang baik – yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Sebelum manusia memproduksi berbagai jenis anti bakteri seperi sabun, pencuci tangan sampai antibiotics – apakah manusia saat itu lebih rentan penyakit ? pastinya tidak. Kita bunya bukti yang shahih untuk ini, yaitu kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau di abad ke 7 M – sangat-sangat sedikit yang menceritakan adanya penyakit atau yang terkena penyakit.

Jaman itu kira-kira adalah 12 abad sebelum Louis Pasteur di pertengahan abad 19 memperkenalkan apa yang disebut proses Pasteurisasi. Semenjak saat itulah manusia tertipu dengan dzon-nya ilmu pengetahuan bahwa untuk susu harus di-Pasteurisasi untuk aman di minum. Bahkan di negara-negara maju, susu tidak boleh dijual kecuali telah di-Pasteurisasi.

Minuman yang oleh Allah sendiri dikabarkan sebagai minuman yang sangat bersih yang keluar di antara darah dan kotoran, tiba-tiba manusia merasa lebih tahu dan menduga bahwa minuman ini berbahaya bila diminum tanpa diproses oleh prosesnya Louis Pasteur ?

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih (murni) antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. “(QS 16 : 66)

Konon kata para peneliti minum susu segar tanpa di-Pasteurisasi memiliki tingkat resiko terkena penyakit 9 kali dari susu yang di-Pasteurisasi. Tetapi kalau toh ini benar, secara absolut hasil peluang orang terkena penyakit dari minum susu segar menurut para peneliti ini pula hanya 1 per 6 juta orang. Minum susu Pasteurisasi bisa jadi  lebih aman dari serangan penyakit langsung, tetapi dengan itu juga kehilangan begitu banyak dari nutrisi yang ada di dalamnya dan hilangnya kekebalan tubuh yang terbawa oleh susu segar.

Lantas mengapa kita tidak minum susu segar ? Kita tidak bisa minum susu segar karena kita meninggalkan perintahNya untuk menggembala (QS 16:10-11 dan QS 20:53-54), kita meninggalkan perintah yang dilaksanakan oleh seluruh Nabi.  Kenapa manusia di jaman ini tidak melaksanakan perintah menggembala ini? karena pekerjaan menggembala dianggap kuno, tidak modern, tidak bergengsi, ndeso dlsb. padahal inilah pekerjaan terbaik kedua setelah berjihad. Begitulah kita, ketika meninggalkan satu perintah atau sunnah, kita akan cenderung meninggalkan perintah yang lain. Sebaliknya begitu kita mulai melaksanakan satu perintah atau sunnah, kita akan cenderung melanjutkannya dengan perintah atau sunnah lainnya.

Kita yang hidup di jaman anti bakteri ini berusaha semaksimal mungkin membunuh bakteri di mana saja keberadaannya.  Pada tubuh kita dibunuh dengan antibiotics, di tanah-tanah pertanian dibunuh dengan pupuk kimia dan pestisida.

Bersamaan dengan terbunuhnya bakteri, menurunlah kekebalan tubuh kita karena 70 % dari pembangun kekebalan tubuh itu diproses di dalam perut kita oleh bakteri. Sama halnya dengan tanah pertanian yang hidup adalah dipenuhi ber-ratus milyar bakteri di setiap genggaman tangan, mayoritasnya akan mati manakala di tanah tersebut diguyur dengan pupuk kimia dan pestisida.

Siapa yang memberitahu bahwa tubuh manusia itu sama seperti lahan pertanian ? lebih dari seribu tahun sebelum manusia mengenal bakteri – kita sudah diberi tahu oleh Allah : “Istri-istrimu adalah seperti tanah untuk bercocok tanam…” (QS 2:223).

Memang ayat ini terkait dengan hubungan suami istri, tetapi ketika Allah menyebutkan sesuatu itu seperti sesuatu yang lain – maka persamaan yang lain akan sangat banyak. Salah satunya adalah karakter tubuh istri kita – yang berari juga tubuh kita – yang memang banyak persamaannya dengan lahan pertanian.

Lahan pertanian yang baik adalah yang hidup, gembur dan menghidupkan (ihtazzat warabat wa-anbatat) – maka demikian pula manusia yang sehat tubuhnya dipenuhi dengan bertrilyun bakteri tersebut diatas.

Karena sesuatu itu sama dengan yang lain, maka penyelesaian masalahnya juga sama. Lahan-lahan kita mati, menjadi pejal dan kalau toh masih bisa menumbuhkan tanaman kwalitas dan kawantitas hasilnya sangat menurun – dan menjadi sangat tergantung dengan pupuk dan obat-obatan kimia.

Bagaimana kalau kita mau menghidupkannya kembali ? hentikan penggunaan bahan-bahan kimia dan terapkan konsep ihtazzat warabat waanbatat , insyaAllah tanah akan hidup dan di tanah yang hidup segala macam jenis tanaman akan bisa tumbuh secara indah atau maksimal ( QS 22:5).

Karena tubuh kita sama seperti tanah pertanian tersebut, maka bila timbul penyakit solusinya juga sama. Anak-anak yang sejak kecil dihantam begitu banyak antibiotic, maka dia seperti tanah yang dihantam pupuk dan obat-obat kimia.

Tubuhnya tidak bertambah sehat dari waktu kewaktu, karena bakteri yang berada di dalam perut – yang memproses 70 % daya tahan tubuh – ikut mati ketika antibiotic mengguyur tubuhnya.

Semakin dia kehilangan daya tahan tubuh, semakin banyak antibiotic dimasukkan kedalam tubuhnya – semakin banyak lagi bakteri yang mati termasuk bakteri yang baik – begitu seterusnya tubuh menjadi semakin lemah dari waktu kewaktu. Persis seperti tanah pertanian yang perlahan-lahan menjadi tanah yang mati.

Lantas bagaimana menghentikan proses degradasi daya tahan tubuh tersebut ? sama dengan menghidupkan bumi yang mati. Bila bumi yang mati dihidupkan dengan biji-bijian (QS 36:33) dan kemudian penggembalaan (QS 16:10-11; QS 22:53-54), tubuh kita disehatkan dengan makanan yang sesuai petunjukNya.

Lihatlah kemiripan urutannya yang dirangkum oleh Allah dalam  makanan yang kita disuruh memperhatikannya. Rangkaian ayat tersebut dimulai dari biji-bijian (QS 80:27) dan ditutup dengan rerumputan untuk penggembalaan ternak (QS 80 :31-32).

Di antara dua ayat tersebut adalah 4 ayat yang membahas kategori makanan mayoritas kita yaitu buah dan sayur. Apa hubungannya buah dan sayur dengan kesehatan kita ? Selain kaya akan nutrisi, buah dan sayur (khususnya buah)  umumnya dimakan mentah.

Bersamaan dengan kita mengkonsumsi buah dan sayur segar, masuklah kedalam tubuh kita bermilyar bakteri – jangan kawatir kita akan sakit gara-gara itu – karena prinsip dasar ecosystem yang ada di alam ini adalah lebih banyak yang baik dari yang buruk. Demikian pula dengan ekosistem mikroba yang disebut microbiome – mayoritas terdiri dari mikroba-mikroba yang baik, yang salah satu tugasnya menyiapkan daya tahan tubuh di dalam perut kita.

Pendekatan semacam ini layak dicoba bila Anda atau saudara Anda ada yang sakit-sakitan, bayangkan bagaimana menghidupkan kembali tanah yang mati – maka seperti itulah kita menyehatkan tubuh yang berpenyakitan.

Bila terasa aneh, tidak sesuai dengan praktek yang luas di masyarakat dlsb. jangan kawatir – karena kita memang hidup di jaman yang menipu – the age of deception, yang benar kelihatan salah, yang baik kelihatan buruk – sejauh kita punya pegangan yang kita yakini kebenarannya, insyaAllah kita akan selamat.

Wallahu A'lam.

Description: Resolusi Hidup Sehat
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Resolusi Hidup Sehat
SelengkapnyaResolusi Hidup Sehat

Ma'rifah Q.S. Al Maidah

Posted by Noer Rachman Hamidi


๐ŸŽŽPendahuluan:
✅ Buah keimanan adalah ketenangan hidup & kebahagiaan hati. Org yg paling bahagia adlh Rasul SAW krn kualitas keimanannya paling baik.

✅ Rizki terbesar dr Allah yg harus kita pertahankan
~ Kemuliaan ๐Ÿ‘ˆ๐Ÿผ Allah muliakan kita dgn..
~ Kebahagiaan ๐Ÿ‘ˆ๐Ÿผ Allah bahagiakan kita dgn iman
~ Keistimewaan ๐Ÿ‘ˆ๐Ÿผ Allah istimewakan kita dgn Al Quran

✅ Org yg paling istimewa di antara kita adlah org yg kualitas qurannya paling bagus. Bkn hanya skdr bacaan, bkn hanya skdar hafalan, tpi jg juga pikiran, perasaan dan sikapnya bagus sesuai quran.

๐ŸŽŽ Isi:
✅ Q.S. Al-Maidah 
★Q.S. Al-Maidah diturunkan sblm Q.S. Al Fath
★Q.S. Al-Maidah scara bahasa artinya makanan 
★Q.S. Al-Maidah pokok isinya ttg halal dan haram.
★Q.S. Al-Maidah mrpkan slh satu surat yg trkhr diturunkan
★Q.S. Al-Maidah mrpkan surat madaniyah

✅ Hukum halal dan haram merupakan ungkapan cinta Allah SWT kpd org yg beriman. Sprti org tua yg melarang anaknya jajan sembarangan demi kesehatan dan menyuruh kita makan makanan yg sehat.

✅ Q. S. Al A'raf: 157
(ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَุชَّุจِุนُูˆู†َ ุงู„ุฑَّุณُูˆู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุงู„ْุฃُู…ِّูŠَّ ุงู„َّุฐِูŠ ูŠَุฌِุฏُูˆู†َู‡ُ ู…َูƒْุชُูˆุจًุง ุนِู†ْุฏَู‡ُู…ْ ูِูŠ ุงู„ุชَّูˆْุฑَุงุฉِ ูˆَุงู„ْุฅِู†ْุฌِูŠู„ِ ูŠَุฃْู…ُุฑُู‡ُู…ْ ุจِุงู„ْู…َุนْุฑُูˆูِ ูˆَูŠَู†ْู‡َุงู‡ُู…ْ ุนَู†ِ ุงู„ْู…ُู†ْูƒَุฑِ ูˆَูŠُุญِู„ُّ ู„َู‡ُู…ُ ุงู„ุทَّูŠِّุจَุงุชِ ูˆَูŠُุญَุฑِّู…ُ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ُ ุงู„ْุฎَุจَุงุฆِุซَ ูˆَูŠَุถَุนُ ุนَู†ْู‡ُู…ْ ุฅِุตْุฑَู‡ُู…ْ ูˆَุงู„ْุฃَุบْู„َุงู„َ ุงู„َّุชِูŠ ูƒَุงู†َุชْ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ۚ ูَุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุจِู‡ِ ูˆَุนَุฒَّุฑُูˆู‡ُ ูˆَู†َุตَุฑُูˆู‡ُ ูˆَุงุชَّุจَุนُูˆุง ุงู„ู†ُّูˆุฑَ ุงู„َّุฐِูŠ ุฃُู†ْุฒِู„َ ู…َุนَู‡ُ ۙ ุฃُูˆู„َٰุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงู„ْู…ُูْู„ِุญُูˆู†َ)
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Allah menghalalkan sesuatu yg mengandung kebaikan dan mengharamkan sesuatu yg mengandung keburukan.

✅ Q.S. Al Maidah: 100
(ู‚ُู„ْ ู„َุง ูŠَุณْุชَูˆِูŠ ุงู„ْุฎَุจِูŠุซُ ูˆَุงู„ุทَّูŠِّุจُ ูˆَู„َูˆْ ุฃَุนْุฌَุจَูƒَ ูƒَุซْุฑَุฉُ ุงู„ْุฎَุจِูŠุซِ ۚ ูَุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَุง ุฃُูˆู„ِูŠ ุงู„ْุฃَู„ْุจَุงุจِ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชُูْู„ِุญُูˆู†َ)
Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan".
Tidaklah sama antara yg baik dan yg buruk

✅ Hal pertama yg diharamkan oleh Allah di Q.S. Al Maidah adalah mengenai makanan. Makanan adlh awal dari segala kebaikan.

★ Q.S. Al Maidah: 3
(ุญُุฑِّู…َุชْ ุนَู„َูŠْูƒُู…ُ ุงู„ْู…َูŠْุชَุฉُ ูˆَุงู„ุฏَّู…ُ ูˆَู„َุญْู…ُ ุงู„ْุฎِู†ْุฒِูŠุฑِ ูˆَู…َุง ุฃُู‡ِู„َّ ู„ِุบَูŠْุฑِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุจِู‡ِ ูˆَุงู„ْู…ُู†ْุฎَู†ِู‚َุฉُ ูˆَุงู„ْู…َูˆْู‚ُูˆุฐَุฉُ ูˆَุงู„ْู…ُุชَุฑَุฏِّูŠَุฉُ ูˆَุงู„ู†َّุทِูŠุญَุฉُ ูˆَู…َุง ุฃَูƒَู„َ ุงู„ุณَّุจُุนُ ุฅِู„َّุง ู…َุง ุฐَูƒَّูŠْุชُู…ْ ูˆَู…َุง ุฐُุจِุญَ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†ُّุตُุจِ ูˆَุฃَู†ْ ุชَุณْุชَู‚ْุณِู…ُูˆุง ุจِุงู„ْุฃَุฒْู„َุงู…ِ ۚ ุฐَٰู„ِูƒُู…ْ ูِุณْู‚ٌ ۗ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ูŠَุฆِุณَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ู…ِู†ْ ุฏِูŠู†ِูƒُู…ْ ูَู„َุง ุชَุฎْุดَูˆْู‡ُู…ْ ูˆَุงุฎْุดَูˆْู†ِ ۚ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ุฃَูƒْู…َู„ْุชُ ู„َูƒُู…ْ ุฏِูŠู†َูƒُู…ْ ูˆَุฃَุชْู…َู…ْุชُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ู†ِุนْู…َุชِูŠ ูˆَุฑَุถِูŠุชُ ู„َูƒُู…ُ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…َ ุฏِูŠู†ًุง ۚ ูَู…َู†ِ ุงุถْุทُุฑَّ ูِูŠ ู…َุฎْู…َุตَุฉٍ ุบَูŠْุฑَ ู…ُุชَุฌَุงู†ِูٍ ู„ِุฅِุซْู…ٍ ۙ ูَุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุบَูُูˆุฑٌ ุฑَุญِูŠู…ٌ)
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

★ Q.S. Al Maidah: 88
(ูˆَูƒُู„ُูˆุง ู…ِู…َّุง ุฑَุฒَู‚َูƒُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุญَู„َุงู„ًุง ุทَูŠِّุจًุง ۚ ูˆَุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุงู„َّุฐِูŠ ุฃَู†ْุชُู…ْ ุจِู‡ِ ู…ُุคْู…ِู†ُูˆู†َ

"Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya."

Makanlah dr sebagian (yg halal) yg telah di rizkikan oleh Allah. Sunnah nya, sblm kita meninggal 1/3 dr harta yg kita punya diinfaq-kan.

★ Sebaiknya berinfaq pada saat subuh krn akan didoakan malaikat.

★ Setiap daging yg tumbuh dari harta yg haram akan mendapat azab neraka.

_Wallahu a'lam_

Description: Ma'rifah Q.S. Al Maidah
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Ma'rifah Q.S. Al Maidah
SelengkapnyaMa'rifah Q.S. Al Maidah

Dunia terus Berubah

Posted by Noer Rachman Hamidi on Saturday, April 2, 2016


Jack Ma (owner Alibaba) berkata,
"Dunia BERUBAH setiap hari & TIDAK AKAN  menunggu Anda."

• Ketika mancis ditemukan, korek api perlahan mulai menghilang.

• Ketika kalkulator diciptakan, sempoa mulai dilupakan.

• Ketika kamera digital dibuat, Kamera rol mulai hilang.

•  Ketika Whatsapp/ BBM dikembangkan, SMS sudah tidak sepopuler jaman dahulu.

• Ketika smartphone dengan teknologi 4G ( internet tanpa kabel ) diperkenalkan, kita bahkan tidak perlu lg menghidupkan komputer di rumah.

• Ketika penjualan langsung ( network marketing)/penjualan via internet meningkat, pemasaran scr tradisional menurun.

Jangan kita menyalahkan "Siapa merebut bisnis siapa". Ini terjadi karena manusia sangat dapat diubah & menyesuaikan diri terhadap ide2 baru & perubahan di dunia ini.

Ada yg bertanya kepada Jack Ma, "Apa rahasia Anda utk sukses?"

Dia menjawab, " Sangat sederhana. Saya melakukan sesuatu ( ACTION ) ketika Anda hanya MELIHAT/ MENGAMATI "

Dan saya juga seperti itu...
ketika anda masih mikir untuk gabung, saya sudah memulainya. Ketika anda baru mau bergabung, saya sudah dpt income nya...
ketika anda baru gabung, saya sudah dpt reward nya...

Ingatlah, dunia berubah setiap hari. Bila anda tidak berubah, maka anda akan TERTINGGAL. jadi segera bertindak, jangan mikir melulu apalagi hanya mikir kenapa orang bisa sukses sementara kita berdiam diri tak mau mengikut cara suksesnya.

SUCCESS IS YOUR CHOICE!
Description: Dunia terus Berubah
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Dunia terus Berubah
SelengkapnyaDunia terus Berubah

SABAR

Posted by Noer Rachman Hamidi on Wednesday, March 16, 2016


Sabar tidak identik dengan nrimo, sabar adalah teguh pendirian dalam berjuang dan bertahan dalam kebenaran. Ada sekitar 100-an ayat-ayat Al-Qur’an tentang sabar ini, diantaranya ada yang disandingan dengan keunggulan atau kekuatan seperti dalam ayat-ayat tersebut di atas.

Ada yang disandingkan dengan syukur, ada yang disandingkan dengan kasih sayang , kejujuran, keyakinan, ketaatan, kebenaran, ketakwaan, amal shaleh dan berbagai kebaikan lainnya.

Hasil dari sabar bukan hanya untuk kehidupan di dunia, orang yang sabar dan beramal shaleh juga dijanjikan ampunan dan pahala yang besar di akhirat (QS 11: 11).

Bila sabar identik dengan seluruh kebaikan tersebut di atas, sebaliknya hilangnya kesabaran adalah sumber petaka yang ada di jaman modern ini. Sabar nampaknya telah pergi dari masyarakat kita sehingga kebaikan-pun pergi bersamanya.

Sabar pergi dari pemerintahan, karenanya pemerintah tidak menggunakan ayat-ayatNya dalam memimpin negeri (QS 32:24). Sabar pergi dari system hukum kita sehingga kebenaran menjadi barang yang langka. Sabar-pun pergi dari kalangan pegawai dan pekerja sehingga produktifitas dan daya saing kita menjadi lemah.

Pertanyaannya adalah lantas bagaimana kita bisa memanggil kembali agar sabar hadir bersama kita ? Bisa jadi subject sabar inilah yang harus masuk di setiap kurikulum pendidikan sejak dini hingga kita mati. Berlatih sabar harus masuk kurikulum pelatihan pegawai sipil maupun  swasta agar mereka meningkat produktifitasnya.

Pelatihan sabar harus masuk kurikulum pelatihan militer agar mereka unggul di medan peperangan. Sabar bahkan harus menjadi kurikulum inti di setiap pelatihan kepemimpinan – karena hanya dengan sabar inilah seorang pemimpin akan bisa memimpin dengan ayat-ayatNya.

Wallahu A'lam.


Description: SABAR
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: SABAR
SelengkapnyaSABAR

Learning by Doing: Ilmu, Amal dan Sebarkan.

Posted by Noer Rachman Hamidi on Wednesday, March 2, 2016

Dalam persaingan ekonomi dunia yang semakin keras, peningkatan skills secara terus menerus sudah bukan lagi pilihan – sudah menjadi keharusan. Di industri apapun Anda dan pada level apapun, Anda harus senantiasa meningkatkan ketrampilan ini bila tidak ingin tenggelam oleh pesaing Anda yang semakin canggih. Menurut laporan McKinsey beberapa tahun lalu, rata-rata tenaga kerja Indonesia harus mampu meningkatkan produktifitas 60% dan jumlahnya harus meningkat lebih dari 100% - bila ingin mengejar posisi kekuatan ekonomi no 7 terbesar dunia pada tahun 2030. Bisakah kita ?

Saya melihat ada kemungkinan kita bisa melakukan peningkatan skills yang significant ini baik dari sisi kwantitas maupun dari sisi kwalitas, bila ada terobosan baru dalam menggerakkan masyarakat secara massive untuk mau berjuang meningkatkan ketrampilannya masing-masing.

Pekerjaan yang sifatnya terstruktur, sistematis dan massive (TSM) semacam ini sering disalah pahami sebagai pekerjaan yang harus dipikul oleh institusi besar seperti partai politk atau pemerintah. Padahal di sekitar kita gerakan TSM ini terjadi sehari-hari tanpa kita sadari.

Dalam skala global misalnya – ada perubahan besar ketika orang tidak lagi mencegat taksi di jalan atau antri di antrian taksi. Dengan aplikasi  Uber Anda bisa tahu taksi yang available terdekat dengan Anda dan Anda dapat memesannya.

Orang melakukan booking tiket pesawat sampai hotel tidak lagi perlu agen perjalanan, cukup dengan smartphone yang ada digenggaman kita dalam 24 jam kita bisa memperoleh tiket kemanapun dan kapan-pun.

Saya tidak lagi perlu sering-sering ke toko buku, karena saya bisa memperoleh buku-buku terbaru yang baru terbit dari penerbit ternama global hanya dalam hitungan 4 sampai 5 hari sejak buku tersebut resmi diedarkan.

Begitu banyak perubahan dengan skala  TSM di sekitar kita yang diinisiasi oleh individual-individual cerdas dan kemudian juga diimplementasikan dengan kerja keras. Persamaan dari segala perubahan besar tersebut adalah adanya kemudahan orang untuk melakukan atau memperoleh sesuatu.

Bila kita bisa menyediakan kemudahan ini di bidang apapun, maka akan terjadi perubahan besar di bidang itu. Prinsip dasar kemudahan inilah yang akan kita terapkan dalam mendongkrak skills masyarakat kita secara TSM untuk membangkitkan kekuatan ekonomi kita seperti prediksi McKinsey tersebut di atas.

Secara konvensional peningkatan skills umumnya dilakukan di lingkungan kerja, pelatihan dan sejenisnya. Karena sifatnya yang demikian, maka proses penambahan skills itu secara umum berjalan lamban. Kalau Anda karyawan perusahaan minyak yang terancam pemutusan hubungan kerja misalnya, pasti sekarang Anda bingung karena pada skills yang Anda miliki – seluruh industrinya mengalami kecenderungan yang sama – mengurangi karyawan atau  tidak berencana menambah karyawan baru.

Alternatifnya adalah Anda harus mengusai skills baru, yang dengan itu Anda dapat mengakses berbagai peluang baru di luar bidang yang selama berpuluh tahun ini Anda tekuni. Masalahnya adalah dari mana Anda akan memulai karir baru tersebut ?

Pertama yang Anda bisa lakukan adalah memilih bidang baru yang paling Anda sukai untuk melakukannya. Ini penting, karena di peluang karir kedua ini Anda sudah tidak lagi muda – Anda butuh sesuatu yang lebih dari sekedar kerja.

Kedua adalah Anda pilih role model di bidang yang  Anda minati tersebut, siapa yang Anda anggap sukses di bidang ini dan bagaimana Anda bisa menirunya atau bahkan mengunggulinya. Lantas bagaimana Anda bisa menirunya ? paling mudah adalah kalau Anda bisa belajar langsung dari role model tersebut dan bila sang role model bersedia menjadi mentor Anda.

Kebanyakan orang-orang sukses di bidangnya ini tidak mudah untuk bisa menjadi mentor bagi orang lain, apalagi orang yang baru dikenalnya. Ini bisa karena yang bersangkutan terlalu sibuk dengan kesukesannya, tidak mau berbagi karena menganggap ini akan seperti mendididik para calon pesaing, atau sebagian besarnya karena tidak tahu bagaimana bisa berbagi.

Maka disinilah saya melihat peluangnya utuk mendongkrak massiv-nya pertumbuhan skills baik dari sisi kwantitas dan kwalitas itu bisa dilakukan. Yaitu bila kita bisa memfasilitasi – bagaimana skills-skills terbaik yang sudah dimiliki sejumlah besar tokoh di bidangnya masing-masing itu bisa di-share semudah dan seluas mungkin.

Bagi para tokoh ini akan kami ‘educate’ cara berbagi kesuksesan mereka. Bahwa berbagi skills dengan yang lain itu tidak ada kaitannya dengan sumber pendapatan atau persaingan, bahkan sebaliknya bisa meningkatkan jaringan sukses berikutnya. Lebih dari itu akan kami sediakan system dalam SkillsWhiz, yang akan menjadikan  berbagi skills itu mudah.

Kehadiran sejumlah orang sukses di perbagai bidang – yang bersedia menjadi mentor bagi orang lain yang ingin mengikuti jejaknya inilah yang akan bisa mengakselerasi pengingkatan skills secara terstruktur, sistematis dan massive itu.

Perjalanan termudah adalah berjalan mengikuti di belakang pemandu jalan yang telah terbukti menempuhnya dengan baik, inilah prinsip dasar yang sederhana dari proses mentoring itu. Hanya saja untuk proses ini bisa berjalan mudah dijaman ini, diperlukan terobosan aplikasi teknologi – agar proses ‘mengikuti di belakang’ ini dapat dilakukan dengan efektif dan efisien. Bayangkan bila negeri dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah ini bila ditopang oleh skills worker yang melimpah di segala bidang, insyaAllah negeri ini akan sangat perkasa ! Description: Learning by Doing: Ilmu, Amal dan Sebarkan.
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Learning by Doing: Ilmu, Amal dan Sebarkan.
SelengkapnyaLearning by Doing: Ilmu, Amal dan Sebarkan.

Beginikah nasib Umat di Negeri yang Subur..?

Posted by Noer Rachman Hamidi on Sunday, February 14, 2016


Isu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kini tengah menjadi perdebatan antara unsur pekerja dan unsur pemerintah. Unsur pekerja wajar mengkawatirkan adanya gelombang PHK dan bahkan bisa mulai menghitungnya dari sejumlah besar perusahaan yang diduga akan melakukan PHK dalam beberapa bulan kedepan. Unsur pemerintah nampak menolak isu adanya gelombang PHK ini dengan berbagai alasan yang dimilikinya. Tetapi lebih penting dari perdebatan ini semua,  adakah upaya untuk mencegah atau setidaknya mengantisipasi gelombang PHK ini  ?

Pertama yang perlu diketahui secara objective oleh semua pihak yang terkait adalah apakah ancaman PHK itu real, atau sekedar kekhawatiran yang tidak beralasan ?

Saya melihat setidaknya ada dua hal yang menjadikan ancaman gelombang PHK itu real. Pertama adalah harga minyak yang jatuh, ini akan mengancam kelangsungan ketersediaan lapangan pekerjaan di sektor migas dan industri lain yang menjadi substitusi dari produk-produk berbasis migas.

Ini bukan hanya terjadi di Indonesia, industri perminyakan di seluruh dunia mengalami ancaman ini. Menurut analisa comprehensive yang dilakukan oleh konsultan di bidang ini Graves & Co, tahun 2015 lalu saja telah terjadi sekurangnya PHK sebanya 258,000 tenaga kerja di seluruh industri perminyakan dunia. Tahun ini diperkirakan akan terus berlanjut karena harga minyak yang masih terus di rezim yang rendah.

Selain ancaman PHK di industri perminyakan, kita yang di Indonesia juga tidak bisa menganggap enteng ancaman PHK yang disebabkan secara langsung maupun tidak langsung dari berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN sejak awal tahun ini.

Tidak mengherankan bila (seolah-olah) tiba-tiba saja sejumlah industri merencanakan relokasi pabrik ke negeri lain yang lebih menarik dari berbagai sisinya, tanpa harus kehilangan pasar besar di Indonesia yang memiliki lebih dari 40% pasar consumer ASEAN.

Akibat dari MEA ini tiba-tiba saja tenaga kerja kita harus secara langsung mampu bersaing dengan tenaga kerja di bidang sejenis dari seluruh negara ASEAN, yang sebenarnya demikian pula para pengusahanya. Bedanya adalah bagi para pengusaha – sebagian mereka – bisa dengan mudah memindahkan unit usahanya ke negara ASEAN lainnya, sementara tidak demikian  dengan para pekerja.

Jadi ancaman MEA bagi para pengusaha tidak separah ancamannya terhadap para pekerja. Bahkan bagi sebagian pengusaha, MEA menjadi –peluang baru untuk memindahkan unit usaha atau pabriknya ke negeri-negeri yang paling kondusif untuk kelancaran usahanya.

Tingkat threat atau tekanan yang berbeda ini lebih mudah digambarkan dengan ilustrasi kursi patah kaki. Ini berdasarkan rumus fisika P=F/A (P=Tekanan, F=Gaya, A=Luas Penampang). Ketika empat kaki kursi semua bersama menyangga beban gaya, keempat kakinya stabil dan beban terdistribusi merata.

Ketika salah satunya patah, maka beban ke kursi yang tidak patah menjadi jauh lebih besar – itupun kalau kursi masih bisa bertahan untuk tidak roboh !

Tiga kaki kursi yang tidak patah tersebut adalah posisi yang dihadapi para pekerja, sedang kaki yang patah adalah posisi pengusaha industri tertentu yang dengan mudah hengkang ke negeri lainnya tanpa harus kehilangan pasarnya di negeri ini.

Walhasil dengan dua hal tersebut di atas saja – rendahnya harga minyak dunia dan berlakunya MEA sejak awal tahun ini – saya melihat ancaman gelombang PHK itu real dan harus diantisipasi oleh seluruh pihak yang berkompeten.

Saya tentu tidak berpretensi bisa memberikan seluruh solusi untuk masalah besar tersebut, yang saya tawarkan hanya salah satu saja dari sekian banyak kemungkinan solusinya.

Yang saya tawarkan adalah me-redefine jati diri negeri ini,  ingin menjadi seperti apa negeri kita ini ? Bila definisi ini jelas dan dibangun berdasarkan kekuatan yang memang ada di negeri ini – maka dengan itulah kita akan mampu bersaing secara global dan mampu mempertahankan pekerjaan dan kemakmuran di negeri ini.

Redefinisi ini sebenarnya juga tidak susah-susah amat karena sejak kecil kita sudah banyak belajar bahwa negeri ini negeri agraris, negeri katulistiwa, negeri bahari dlsb. Mengapa tidak menguatkan jati diri kita ini saja ?

Ambil misalnya kita kuatkan jati diri kita sebagai negeri agraris bahari, maka dengan dua kekuatan biodiversity yang ada di darat dan laut kita – kita pasti bisa unggul kalau hanya bersaing di area MEA saja. Industri berbasis pertanian dan kelautan tidak serta merta bisa dipindahkan oleh para pengusahanya ke negeri lain karena sumber daya utamanya ada di negeri ini.

Negeri yang keunggulannya dibangun atas dasar kekuatan pertanian juga sama sekali tidak bisa dianggap enteng, karena berbasis pertanian inilah semua kebutuhan pangan, sandang dan bahkan papan kita dipenuhi. Artinya industri inilah yang bisa menjawab kebutuhan utama penduduk suatu negeri.

Lebih jauh lagi, negeri yang baik menurut definisi Al-Qur’an-pun adalah negeri kebun yang penduduknya makan cukup dari kebun-kebun tersebut – negeri yang disebut Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". (QS 34:15)

Potensi untuk menjadi negeri yang baik itu ada di sekitar kita, tetapi malah kita sibuk mencari keunggulan kesana-kemari yang tidak kunjung ketemu dan berbuntut pada ancaman gelombang PHK di era MEA dan rezim harga minyak rendah dunia tersebut di atas.

Bila pertanian kita selama ini masih dilihat sebelah mata bahkan dunia perbankan-pun enggan mengucurkan dananya, bila masyarakat petani kita masih manjadi bagian dari kelompok masyarakat yang berdaya beli rendah – bisa jadi itu semua karena kita kurang meng-elaborasi peluangnya saja.

Maka inilah solusi dalam mengantisipasi gelombang PHK dan ancaman ekonomi lainnya, sekaligus membaliknya menjadi peluang untuk membangun keunggulan negeri yang dari dulu by default sudah kita sebut sebagai negeri agraris ini. Insyaallah.

Semoga kita bisa menjadi umat yang kuat dengan berkah alam yang subur dalam bidang perekonomian dan perdagangan dunia. Aamiin. Description: Beginikah nasib Umat di Negeri yang Subur..?
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Beginikah nasib Umat di Negeri yang Subur..?
SelengkapnyaBeginikah nasib Umat di Negeri yang Subur..?

Kami Muslim, Dipaksa Merasa Bersalah

Posted by Noer Rachman Hamidi on Saturday, November 14, 2015


Belum genap sehari pengeboman dan penembakan Paris terjadi, tapi berbagai media sudah menyebut satu kelompok muslim sebagai pelaku teror. Baru saja Reuters menurunkan berita Paris attacks kill 127, Islamic State threatens France, dengan menyertakan paragraf  ‘Tidak ada klaim pertanggungjawaban secara langsung, tapi ISIS mengeluarkan video tanpa tanggal. Video itu berisi ancaman ISIS bahwa Perancis tidak akan hidup damai sepanjang  tetap ikut serta mengebom ISIS bersama Amerika’ (Reuters.com 14/11 pukul 16.53 WIB).

Berita di atas sudah pasti akan direlay berbagai media di dunia, termasuk media di Indonesia karena Reuters adalah portal berita terkemuka, dianggap terpercaya. Ini tentu saja sangat disayangkan karena belum ada investigasi, belum ada siaran pers dari yang mengaku bertanggungjawab, Reuters sudah menanamkan zhon bahwa pelaku teror Paris adalah muslim. 

Esok, saya yakin Muslim di berbagai belahan dunia akan dipaksa untuk menyampaikan pernyataan ‘not in my name’, tidak atas nama saya, sebagai perceraian ideologis dengan ‘Muslim’ pelaku teror itu. Padahal, apa iya pelaku-pelaku teror ini Muslim? Mana bukti mereka Muslim? 

Saya saja, belum apa-apa, di halaman pribadi media sosial juga menyampaikan hal itu. Not in my name. Walau, sungguh, saya belum tahu siapa yang menjadi pelakunya. Atau apakah nama kelompok saya (Muslim) akan diseret pelaku teror itu atau tidak.

Secara psikologis, ada ketakutan bahwa saya akan disamakan dengan kelompok –katanya Muslim- teroris itu. Itu sebabnya saya bersegera menyampaikan, tidak atas nama saya. Mental saya sudah lebih dulu terserang dan saya harus memertahankan diri. Saya bukan bagian dari teroris.
Padahal, siapa sih kelompok peneror itu?

Jangan-jangan ini pun setting kelompok tertentu. Mereka demikian pintar berperang dan ajeg menggunakan siasat Sun Tzu, ‘Bergerak dengan halus, sampai pada keadaan tanpa bentuk. Berlakulah dengan sangat misterius, sampai pada keadaan tak ada suara. Kamu akan bisa menentukan nasib lawan’.

 Saking tidak jelasnya siapa mereka dan seterusnya, dua milyar orang berhasil dibuat merasa bersalah oleh pelaku teroris yang belum mengaku berasal dari Muslim ini.

Di sisi lain, pemberitaan model Reuters ini semacam menyembur minyak ke dalam api. Muslim di berbagai dunia semakin melek dengan kemunafikan Barat. Saat satu lokasi di Barat diserang, Muslim melihat media serentak berteriak, ‘Ini teror. Kita sedang berperang melawan teror.’ Media lalu menayangkan siapa yang harus diperangi itu, Muslim.

Pada hari yang sama, Muslim melihat Palestina diserang Israel dalam gelombang intifada ketiga dengan korban sudah ratusan juga, tidak banyak media yang memuat. Begitu juga saat Rusia atau tentara sekutu Amerika mengebom Siria empat hari lalu, media relatif sunyi.

Ini tentu saja tidak membantu terciptanya dunia yang aman, damai bagi semua. Sebanyak dua milyar manusia dari tujuh milyar penduduknya akan merasa tersudutkan dan dibuat tidak nyaman dengan propaganda teror identik dengan Islam.

 Belum lagi jika mereka melihat pada saat yang sama, tindakan serupa di belahan bumi Muslim diakui sebagai tindakan memertahankan diri. 

Standar ganda yang berkeleleran di media Barat ini sangat mungkin menjadi pemicu sebagian kecil Muslim yang merasa harus berbuat sesuatu atas ketidakadilan ini. Mereka merasa suaranya tidak didengar. Mereka membaca kesewenang-wenangan. Saat tidak ada kanal menyuarakan kemarahan itu, mereka mengambil jalan pintas, mereka turun tangan dengan membabibuta. 

Saya harap, media-media di Indonesia bisa bijak menuliskan berita tentang teror di Paris. Elemen jurnalistik Bill Kovack rasanya perlu diingat terus. Kewajiban pertama jurnalistik adalah pada kebenaran. Kebenaran yang dilihat dari berbagai sisi sehingga utuh fakta itu dilihat dari kiri, kanan, atas, bawah, ataupun dalam. Jurnalistik juga harus bisa membuat berita yang proporsional dan komprehensif. Proporsional silahkan dilihat dari skalanya, jumlah yang tewasnya. 

Sampai saat ini, jumlah terbanyak tewas dalam konflik dunia saat ini tetaplah Muslim. Jumlah terusir terbanyak tetaplah Muslim. Media mestinya proporsional menampilkan ini hingga tak membuat korban merasa menjadi pelaku kejahatan.  

Jika media di negeri mayoritas Muslim saja gagal melakukan ini, apalagi media di belahan bumi yang lainnya. 

(Ditulis oleh Maimon Herawati, Pengajar Jurnalistik Fikom Unpad di Harian Republika).


Description: Kami Muslim, Dipaksa Merasa Bersalah
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Kami Muslim, Dipaksa Merasa Bersalah
SelengkapnyaKami Muslim, Dipaksa Merasa Bersalah

Iman, Doa dan Amal Saleh

Posted by Noer Rachman Hamidi


Bagian dari keimanan kita adalah Allah menjamin kecukupan rezeki kita karena Dia-lah Sang Maha pemberi rezeki itu. Bagian dari janji Allah atas rezeki kita itu, ditakdirkanNya pula sekian banyak manusia dengan posisi atau tugasnya masing-masing.

Ada yang berada di kebun menanam teh, ada yang di pasar melakukan jual beli teh, ada pekerjaan kita yang memungkinkan kita bisa membeli teh tersebut dan seterusnya.

Tetapi ketika teh sudah berdampingan dengan gulanya di depan mata kita sekalipun, teh dan gula tidak bercampur dengan sendirinya. Perlu amal berupa gerakan tangan kita untuk mengaduknya, dari situlah kemudian teh yang kita minum menjadi manis.

Ketika teh sudah tersaji di depan mata berdampingan dengan gulanya sekalipun, tidaklah cukup dengan iman dan do’a kita untuk menjadikan gula tersebut bergerak sendiri masuk ke gelas teh dan mengaduk dirinya sendiri. Perlu gerakan tangan kita untuk mengaduknya.

Itulah sebabnya mengapa yang dijanjikan oleh Allah kehidupan yang baik (QS 16:97), dan yang dijanjikan akan memimpin dunia (QS 24:55) – juga orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Amal saleh inilah yang menjadi sarana untuk mendaratkan rezeki melimpah yang komponen dasarnya sudah dihantarkan oleh Allah sampai di depan mata kita.

Sama dengan ketika tangan kita tidak mengaduk gula dalam teh tersebut – teh tidak menjadi manis – demikian pula ketika kita tidak mengolah unsur-unsur dasar dari rezeki yang ditaburkan Allah di sekeliling kita, rezeki tidak mendarat dengan sendirinya ke genggaman tangan kita.

Allah bentangkan tanahnya yang subur di bumi kita, dicurahkan hujannya yang lebat dan dipancarkan sinar mataharinya yang melimpah – tetapi biji-bijian bahan pangan utama kita tidak tumbuh dengan sendirinya, perlu tangan kita untuk bergerak minimal memilih benihnya yang baik, menebarkannya,  dan baru kemudian memetik hasilnya pada waktu yang sesuai.

Demikian pula dengan buah-buahan, kurma, anggur, apel, jeruk dan berbagai buah-buahan lainnya tidak ujug-ujug tumbuh di tanah kita. Perlu ada yang belajar membibitkannya, menanamnya, merawatnya dst . hingga pohon-pohon itu berbuah sekian tahun kemudian.

Lho, tanpa kita menanam bukankah sudah ada orang lain yang menanamnya ? sehingga tinggal kita menikmatinya saja ? Bisa saja demikian. Tetapi ketika kita membiarkan orang lain yang melakukan itu semua, itu menjadi amal saleh orang lain tersebut.

Ketika semua-semua yang melakukan mereka, semua amal saleh diborong oleh orang lain dan kita tinggal menikmatinya – maka sejalan dengan ayat-ayatNya tersebut di atas –  yang memimpin dunia saat ini juga orang lain, bukan kita ! kemudian kita berteriak-teriak tidak mau dimpimpin mereka, padahal kita juga yang tidak melaksanakan tugas untuk beramal saleh ini.

Sama dengan teh dan gula tersebut di atas, kalau yang mengaduknya kita sendiri – kita bisa mengira-ngira, semanis apa minuman teh yang kita kehendaki. Ketika kita membiarkan orang lain yang mencampur dan mengaduknya, kadang terlalu manis yang membahayakan kesehatan kita, kadang terlalu pahit yang tidak enak diminum. Maka kinilah saatnya kita yang mencampur dan mengaduk gula ke dalam teh kita sendiri ! InsyaAllah kita pasti bisa, lha wong tinggal mencampur dan mengaduk-aduknya. InsyaAllah. Description: Iman, Doa dan Amal Saleh
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Iman, Doa dan Amal Saleh
SelengkapnyaIman, Doa dan Amal Saleh

kala Menangis menjadi Ukuran...

Posted by Noer Rachman Hamidi on Sunday, November 1, 2015


Tahukah Anda, bila salah satu indikator kekuatan umat itu ada pada kapan dan mengapa mereka itu menangis. Di puncak keterpurukan umat saat ini, orang menangis karena kursi yang diidamkan lepas dari tangan. Investasi yang digadang-gadangnya ternyata mengalami kerugian, kekasih yang dicintainya – diambil orang dan berbagai alasan sepele lainnya. Kapan terakhir kalinya kita menangis ketika melihat perpecahan di tengah umat ?, ketika keimanan hilang dari pendidikan generasi muda kita ? ketika kita melihat kelaparan ? dan perbagai alasan lain yang lebih essential ?

Ada pelajaran menarik dari tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan Islam di Andalusia. Ratu Isabella – penguasa salib rajin menyebar mata-mata ke seluruh penjuru untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan kaum muslimin – semacam kita membuat SWOT Analysis sekarang ! Hasil dari SWOT analysis-nya inilah yang nantinya akan digunakan untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk menyerang kaum muslimin.

Salah satu mata-mata terbaik mereka kemudian memasuki kota terakhir  yang masih dikuasai kaum muslimin. Dia menjumpai anak kecil berusia 8 tahun yang lagi menangis tersedu-sedu sendirian. Dia dekati dan bertanyalah sang mata-mata :

“Apa yang membuatmu menangis nak ?” tanya si mata-mata.

Anak kecil itu menjawab : “Biasanya aku melempar dengan satu batu ini dan aku mendapatkan dua burung sekaligus. Tapi kali ini aku melempar dengan satu batu hanya mendapatkan satu burung dan yang satunya berhasil terbang”.

“Bukankah itu sudah lumayan ?” tanya si mata-mata.

Anak kecil itupun langsung membantahnya : “ Tidak, karena kalau negeri ini dimasuki oleh tentara musuh dan aku hanya  punya satu tombak, dan aku hanya bisa membunuh satu musuh sedangkan yang lain membunuhku, maka aku akan menjadi celah masuknya musuh Islam ke negeri ini. Aku tidak mau demikian itu terjadi”.

Mendengar jawaban anak kecil itu si mata-mata kaget bukan kepalang. Karena bila anak kecilnya saja seperti ini, lantas seperti apa bapaknya ? seperti apa pula paman-pamannya ? Si mata-mata-pun kemudian menulis surat ke ratunya dan mengabarkan : “ Bukan sekarang waktu yang tepat untuk menyerang negeri kaum muslimin ini”.

Kemudian 20 tahun berselang ketika mata-mata yang sama kembali memasuki kota yang sama pula. Di gerbang kota itu dia jumpai seorang pemuda yang lagi menangis tersedu-sedu sendirian. Saat itu waktu sudah mulai senja, dan sang mata-mata-pun bertanya :

“Apa yang membuatmu menangis anak muda ?”

Anak muda itupun menjawab : “Aku sedang menunggu kekasihku yang janji berjumpa di tempat ini sebelum dhuhur. Sekarang sudah menjelang terbenam matahari dia belum juga datang. Saya kawatir terjadi apa-apa dengannya”.

Mata-mata itupun gembira mendengar jawaban ini, segera dia menulis laporan intelijennya yang singkat ke sang ratu : “Sekarang waktunya untuk menyerang kaum muslimin !”.

Kita bisa berkaca sekarang, apakah tangisan-tangisan kita seperti tangisan anak kecil tersebut di atas ? atau tangisan si pemuda ? maka itulah kondisi umat saat ini.

Kaum muslimin di Jakarta khususnya, mestinya sekarang banyak-banyak menangis. Bukan karena Jakarta masih sering dilanda banjir, kebakaran, kemacetan dan lain sebagainya. Tetapi menangis karena keprihatinan yang sangat mendalam, kok bisa umat yang mayoritas ini tidak mampu mendudukkan pemimpin terbaiknya untuk memimpin mereka ?

Umat harus banyak-banyak menangis, manakala sudah ada satu calon pemimpin muslim yang akan maju – kemudian bermunculan calon-calon lainnya. Karena dengan banyaknya calon dari kaum muslimin, masing-masing justru menjadi titik lemah umat – karena suara umat akan terpecah dan hanya menguntungkan pihak lain.

Banyak sekali saat ini yang bisa menjadi alasan umat untuk menangis, selain ketimpangan politik dan  riba, juga berbagai ketimpangan ekonomi, sosial, kerusakan lingkungan dan berbagai kerusakan lainnya.

Waktunya untuk menyadarkan umat, untuk mulai bersiaga ditempatnya masing-masing. Agar masing-masing kita tidak menjadi jeruji yang patah tempat masuknya musuh mengobok-obok keimanan dan ke-Islaman kita. Agar masing-masing kita tidak menjadi titik lemah umat yang sampai membuat anak kecil 8 tahun tersebut di atas menangis ! Hanya dengan ketaatan untuk bersiaga di tempat kita masing-masing inilah umat insyaAllah akan bisa kembali menang.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Zayd bin Aslam : “ Abu ‘Ubaydah menulis kepada ‘Umar bin Khattab dan menyampaikan kepadanya bahwa tentara Romawi sedang memobilisasi kekuatannya. ‘Umar membalas surat itu : “ Allah akan segera merubah segala kesulitan yang diderita oleh orang-orang yang beriman, menjadi kemudahan, dan tidak ada kesulitan yang akan bisa melawan dua kemudahan. Allah berfirman dalam kitabNya :

"Wahai orang-orang yang beriman ! bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (ribath) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. (QS 3:200)

Medan untuk bersiap siaga di ujung-ujung perbatasan yang langsung berhadapan dengan musuh itu sekarang menjadi sangat luas, karena perang di jaman ini tidak lagi terbatas pada peperangan dengan senjata.

Medan perang itu terjadi di dunia politik, ekonomi, sosial dan segala aspek kehidupan lainnya seperti yang dideklarasikan oleh juru bicara ‘romawi ‘ jaman ini yang ingin menguasai Full Spectrum Dominance ! Masihkah kita akan menangis untuk hal-hal yang sepele ? masihkah kita akan membiarkan diri kita, posisi/kedudukan kita, pekerjaan kita, sebagai titik lemah masuknya musuh yang akan mengobok-obok negeri kaum muslimin ? mestinya tidak. InsyaAllah.


Description: kala Menangis menjadi Ukuran...
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: kala Menangis menjadi Ukuran...
Selengkapnyakala Menangis menjadi Ukuran...

Memulai Berdagang dengan 3 Langkah Sederhana.

Posted by Noer Rachman Hamidi on Friday, October 2, 2015

Bila ada satu keahlian yang dengannya riba dihilangkan,  krisis ekonomi dielakkan dan bersamaan dengan itu agama disebarkan maka keahlian itu adalah keahlian dalam berdagang. Pasti bukan suatu kebetulan ketika Islam turun pertamanya di suku yang keahliannya berdagang, begitu-pun ketika Islam sampai ke Nusantara ini juga melalui jalur perdagangan. Sayangnya keahlian ini seperti menghilang dari umat sehingga umat yang mayoritas-pun seperti tidak berdaya kini di dunia perdagangan, lantas bagaimana mengembalikan keahlian ini ?

Salah satu jalannya adalah melalui komunitas bisnis online, kita berusaha untuk membangkitkan kembali keunggulan umat dalam berdagang. Dalam berdagang sebetulnya ada 3 tahapan yang harus dilalui agar kita bisa berhasil dalam perdagangan yang menjadi pondasi bisnis yang sesungguhnya.

Pertama, kita harus mampu mempromosikan produk-produk yang akan kita jual. Dengan teknologi yang ada saat ini kita dapat dengan mudah memperkenalkan produk melalui sarana internet, tinggal bagaimana kita mampu mempergunakan segala kemudahan tersebut melengkapi cara konvensional yang tetap masih kita perlukan.

Kedua, setelah kita mampu mempromosikan produk sehingga mampu menghadirkan pembeli di depan kita, tantangan berikutnya adalah kita harus mampu meyakinkan pembeli untuk bertransaksi atas produk yang kita jual. Disinilah perdagangan yang sesungguhnya akan terjadi bila kita sudah mampu melakukan penjualan.

Ketiga, dalam semua transaksi penjualan (muamalah), kemampuan kita menjelaskan dengan jujur adalah pondasi sesungguhnya dalam berbisnis. Karena pondasi bisnis sesungguhnya adalah membangun kepercayaan yang akan bisa menghadirkan pembelian yang berulang ulang, dan bahkan dengan kepuasan, respect dan kepercayaan kepada pembeli, pihak pembeli bisa saja mempromosikan kepada temannya agar melakukan pembelian dengan kita.

Jadi berdagang itu sesungguhnya tidaklah sulit, keahlian ‘menjual’ ini terbawa pada diri kita sejak kita lahir. Melalui tangisan pertama kita –itulah sales speak pertama kita untuk memperoleh perhatian ibu kita.

Demikianlah menjual itu, bisa dimulai dengan tiga langkah mudah dan sederhana juga, yaitu pertama membuat atau mencari produk yang bagus untuk dijual. Kedua mengkomunikasikan produk yang bagus tersebut dengan sejujurnya, dan yang ketiga adalah men-deliver produk atau barang seperti yang dijanjikan.

Untuk produk yang bagus – kita umat Islam punya contoh atau pedoman  untuk memilihnya. Pedoman itu tiada lain adalah petunjuk kita yang ada di Al-Qur’an dan Hadits, mengikuti contoh langsung bagaimana Allah menggambarkan kalimat yang baik – yaitu seperti pohon yang baik.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS 14:24-25)

"Produk yang baik seperti pohon yang baik".

Pohon yang baik memiliki akar yang kokoh ( ashluhaa tsaabit), cabangnya menjulang ke langit (wa far’uhaa fissamaa’) dan pohon tersebut menghasilkan buah sepanjang waktu dengan ijinNya (tu’tii ukulahaa kulla qiinin biidzni Rabbihaa).

Penerapannya pada produk yang baik adalah dia memiliki value proposition yang kuat yang mengunggulkannya dari produk-produk lain yang sejenisnya, dengannya produk tersebut mudah menarik perhatian orang untuk ikut menyebar luaskannya – syiarnya mudah meluas. Dan yang ketiga adalah produk berupa barang atau jasa tersebut harus bener-bener di-deliver sesuai janjinya, pembelinya harus memperoleh manfaat yang sepadan atau bahkan  lebih besar dari cost yang dibayarnya.

Bila Anda sudah memperoleh produk yang bagus semacam ini – maka ini sudah separuh dari pekerjaan menjual itu sendiri. Bila selama ini Anda susah sekali jualan, cobalah perhatikan produk yang Anda jual. Perlu kita ingat bahwasanya membangun bisnis itu ibaratnya menanam benih, menjadi apa tanaman itu tumbuh sesuai dengan benih yang akan kita besarkan. Apapun benih yang kita pilih akan menentukan hasil yang akan kita petik.

Wallahu A'lam. Description: Memulai Berdagang dengan 3 Langkah Sederhana.
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Memulai Berdagang dengan 3 Langkah Sederhana.
SelengkapnyaMemulai Berdagang dengan 3 Langkah Sederhana.

Makanan yang Baik dan Amal Sholeh.

Posted by Noer Rachman Hamidi on Friday, September 11, 2015


Bahwasanya perbuatan baik atau amal shaleh itu nampak semakin langka di masyarakat dapat kita saksikan buktinya hari-hari ini di televisi. Berita-berita yang ada seputar begal saja seolah terintegrasi dari yang skala kecil yang dilakukan preman kampung, sampai skala ibukota negeri dalam permainan APBD – entah siapa yang memainkannya. Amal shaleh menjadi langka karena makanan masyarakat yang tidak thoyyib dari sisi zat maupun cara perolehannya. Dari mana kita bisa memperbaikinya ? salah satunya adalah melalui apa yang saya sebut wakaf kreatif !

Memperbaiki masyarakat melalui perbaikan apa yang mereka makan ini sesuai dengan perintah kepada para Rasul “Hai para Rasul, makanlah dari makanan yang thoyyibaat, dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 23:51). Sebagaimana rusaknya makanan melalui dua jalur yaitu zat dan cara perolehannya, maka perbaikannya juga melalui dua jalur – yaitu memperbaiki zat makanan dan memperbaiki cara-cara perolehannya.

Bila makanan kita yang berupa sumber protein nabati utama – yaitu kedelai yang kita impor – dirusak dari sananya melalui perusakan keturunannya atau lebih dikenal dengan Genetically Modified Organism (GMO), maka perbaikannya adalah kita harus menggerakkan kembali kegemaran menanam kedelai yang masih alami.

Bila makanan kita yang berupa sumber protein hewani – daging sapi – kita kawatirkan telah bercampur dengan daging sapi jalalah karena maraknya iklan pakan ternak yang bersumber dari darah di majalahnya para peternak, maka perbaikannya adalah melalui menghidup-hidupkan kembali pekerjaan para nabi yang diperintahkan ke kita hingga kini yaitu menggembala.

Dengan menggembala, kita bisa yakin bahwa ternak-ternak kita makan makanan alami mereka yaitu rumput. Barangkali inilah salah satu hikmahnya mengapa menggembala adalah termasuk hal yang diperintahkan di dalam Al-Qur’an : “Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54)

Katakanlah kita bisa mulai memperbaiki makanan kita yang bersifat zatnya, ini belum akan berarti banyak bila system ekonomi kita masih didominasi oleh ekonomi ribawi – apalagi bila diperburuk dengan ekonomi riswah, korupsi dan sejenisnya seperti yang tergambar dalam permainan APBD tersebut di atas.

Bagaimana kita mulai bisa merintis jalan untuk menggantikan ekonomi ribawi ini ? hanya dua jawabannya di Al-Qur’an yaitu melalui perdagangan dan melalui sedekah (QS 2:275-276). Umat harus kembali dibangkitkan kekuatan dagangnya – sebagaimana agama ini turun di masyarakat pedagang kota Makkah.

Umat juga harus dibangkitkan kekuatan sedekahnya, bukan hanya sedekah uang receh di kencleng masjid-masjid – tetapi sedekah yang massif dengan porsi yang besar dari harta terbaik kita, itulah wakaf. Bagaimana sedekah yang massif berupa wakaf ini akan bisa mengikis ekonomi ribawi..? 

Wakaf kreatif yang berupa modal kerja akan memancing wakaf kreatif berikutnya, yaitu siapa yang akan mengadakan mesin-mesin pemroses saus tomat, sambal, tahu dan tempe yang bersih dan higienis ? Inilah kesempatan kita yang memiliki kelebihan rezeki, dengan beberapa puluh juta saja sudah bisa berwakaf dengan satu pabrik tersebut di sebuah desa yang memiliki hasil pertanian tomat, sambal, kedelai  dlsb misalnya.

Jadi pabriknya adalah wakaf sehingga tidak perlu dibebani dengan beban riba, modal kerjanya-pun terus bertambah selain dari sebagian keuntungan yang diputar kembali – juga akan terus ada injeksi modal baru dari 1/3 keuntungan penjualan yang diniatkan untuk diwakafkan.

Apakah langkah ini akan meaningful dalam memperbaiki kerusakan yang ada di  masyarakat seperti diungkapkan di awal tulisan ini ? Wa Allahu A’lam, kita hanya mulai melakukan perbaikan yang kita bisa. Tetapi secara hitung-hitungan manusia-pun ini dimungkinkan.

Pertama, bila masyarakat berlomba menemukan cara terbaik untuk beramal shaleh antara lain dengan wakaf pabrik-pabrik saus tomat, sambal,  tahu dan tempe – maka akan bermunculan industri desa yang berbasis wakaf ini. Industri ini insyaAllah juga tidak akan kekurangan modal kerja, karena ada wakaf kreatif lainnya yaitu wakaf modal kerja yang diambilkan dari 1/3 hasil keuntungan penjualan yang akan disalurkan untuk pabrik-pabrik berikutnya di desa-desa berpotensi lainnya.

Kedua, potensi pemasaran hasil-hasil produksi saus tomat, sambal, tahu dan tempe. Misalnya seperti hasil-hasil dari  industri kedelai sebagai sumber protein utama negeri ini saja mencapai hampir Rp 60 trilyun  atau sekitar 0.5 % dari GDP kita, bila sebagian saja dari potensi ini digerakkan oleh dana wakaf – maka ini akan bisa menjadi cikal bakal yang sangat baik – tentang bagaimana kita bisa mulai mengantikan sedikit-demi sedikit ekonomi ribawi kita dengan ekonomi yang berbasis sedekah khusus berupa wakaf.

Dengan demikian kita akan bisa mulai melangkah secara konkrit, bagaimana perbaikan – perbaikan makanan itu bisa bener-bener kita mulaki lakukan, baik dari sisi zatnya maupun dari sisi cara perolehannya. Dengan perbaikan makanan inilah nantinya masyarakat akan menjadi ringan untuk beramal shaleh berikutnya.

Saya bayangkan suatu saat nanti, tontonan di televisi kita akan dipenuhi oleh ide-ide kreatif masyarakan dalam beramal shaleh – berwakaf kreatif untuk mengatasi problem-problem yang nyata di masyarakat. Masyarakat perlu tontonan yang menginspirasi untuk berbuat baik, bukan sebaliknya – tontonan yang membuat kita stress dan bahkan menginspirasi sebagian masyarakat untuk meniru perbuatan jahat. Na’udzubillahi min dzalik. Description: Makanan yang Baik dan Amal Sholeh.
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Makanan yang Baik dan Amal Sholeh.
SelengkapnyaMakanan yang Baik dan Amal Sholeh.

Perubahan dari Diri Sendiri.

Posted by Noer Rachman Hamidi on Wednesday, September 9, 2015


Kita tentunya ingin membuat suatu perubahan untuk kehidupan yang lebih baik. Masing-masing kita tentunya juga punya pilihan di bidang apa kita ingin membuat perubahan itu. Bahkan Allah perintahkan langsung kepada kita untuk membuat perubahan itu:

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS 8:53)

Jadi yang akan membuat perubahan terhadap nikmat berupa apapun yang kita terima, itu adalah dimulai dari diri kita sendiri yang mau merubahnya – lalu Allah-pun merubahnya sesuai dengan yang kita lakukan.

Konon salah satu indikator negeri yang buruk atau negeri yang akan terus mengalami kemunduran itu adalah bila suatu negeri tidak mau menanam pohon bahkan gemar menanam tanaman yang tidak bisa dimakan. Entah siapa yang mulai merumuskan indikator ini, tetapi ini juga sejalan dengan formulasi negeri yang sebaliknya – yaitu negeri yang baik menurut AlQur’an. Bila negeri yang baik itu adalah negeri yang di kanan dan kirinya kebun-kebun yang menghasilkan buah yang di makan.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". (QS 34:15).

Maka yang sebaliknya juga sangat mungkin berlaku, negeri yang buruk adalah negeri yang tidak peduli untuk menanam tanaman yang bisa dimakan. Sesubur apapun suatu negeri, bila yang ditanam adalah tanaman-tanaman yang tidak dimakan – lantas dari mana rakyatnya akan memperoleh makanannya secara cukup dan berimbang ?

Tentu ini tidak berlaku untuk negeri-negeri yang secara khusus sudah ditetapkan oleh Allah sebagai negeri yang diberkahi seperti Syam, juga negeri yang dipenuhi buah-buahan atau makanan meskipun tidak perlu menanamnya – sebagai bentuk terkabulnya do’a bapak para nabi yaitu Mekah. Negeri kita bukan Syam dan bukan Mekah, maka bila rakyatnya tidak gemar menanam tanaman yang dimakan dikhawatirkan akan masuk kategori negeri yang buruk atau negeri yang mengalami kemunduran.

Gejala-gejalanya mudah dilihat di sekitar kita. Negeri yang subur ijo royo-royo ini baru berkutat di satu atau dua dari lima jenis makanannya – yaitu karbohidrat dan mungkin juga lemak (minyak). Kita tidak bisa mencukupi kebutuhan protein, vitamin dan mineral – yang sebagian besarnya harus diimpor.

Gejala lain juga mudah kita temukan di sepanjang jalan yang kita lalui baik tol maupun non-tol, baik jalan-jalan yang di kota maupun yang antar kota, juga di perumahan-perumahan yang elite maupun yang tidak elite. Perhatikan apa yang ditanam di tempat-tempat tersebut ?, dimakankah ?, rata-rata bukan dari jenis tanaman yang bisa dimakan.

Kita membuang begitu banyak kesempatan untuk menghasilkan makanan, padahal makanan inilah problem utama rakyat negeri ini dan juga negeri-negeri lain di dunia. Lantas bagaimana solusinya agar kita bisa membalik arah, agar negeri yang sedang mengalami kemunduran ini berubah arah menuju kemakmurannya ?.

Agar rakyat bisa makan secara cukup dan seimbang dari hasil-hasil tanaman yang ditanam di tanah kita sendiri ? Jawabannya adalah, harus ada kerja keras membalik arah budaya ini. Dari mana memulainya ?, minimal dari tulisan-tulisan semacam ini.

Kemudian juga diikuti langkah nyata walaupun baru dalam tahapan tulisan www.agribisnis-indonesia.com, insyaAllah kita telah mulai memberikan informasi kepada masyarakat secara gratis untuk memahami dan menanam tanaman-tanaman yang bisa dimakan sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari Yang Maha Mengetahui (Al Quran).

Agar tidak reinvent the wheel, tanaman-tanaman yang bisa dimakan yang disosialisasikan ini – juga bukan tanaman coba-coba. Ilmu manusia terlalu sedikit dan umur nya terlalu pendek untuk bisa mengetahui secara bijak apa yang seharusnya ditanam untuk jangka panjang ini, maka kami ambilkan tanaman-tanaman yang namanya disebut secara langsung di Al-Qur’an.

Yang kami bayangkan adalah suatu saat nanti akan meluas di masyarakat kegemaran menanam pohon-pohon yang menghasilkan makanan. Di kanan kiri kita atau dimanapun kita berjalan akan melihat kebun-kebun makanan, maka saat itulah negeri kita menjadi negeri yang baik seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut di atas. InsyaAllah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang membuat perubahan di bidang kita masing-masing menuju kemakmuran umat sebagai wujud amal sholeh kita dan menjadikan kita pantas menjadi golongan kanan - Umat yang Rahmatan lil Alamin. Aamiin Ya Robbal Alamin. Description: Perubahan dari Diri Sendiri.
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Perubahan dari Diri Sendiri.
SelengkapnyaPerubahan dari Diri Sendiri.

Manusia seharusnya tidak seperti Keledai.

Posted by Noer Rachman Hamidi on Monday, September 7, 2015


Sungguh ini adalah kalimat Al-Qur’an yang mengatakan manusia lebih buruk dari keledai dan sebangsanya : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS 7:179)

Siapa yang dikatakan lebih sesat dari binatang ternak tersebut ? adalah orang yang tidak menggunakan hati (akal), mata dan telinganya untuk memahami ayat-ayatNya. Sebaliknya orang-orang yang setiap saat selalu memikirkan ayat-ayat pada ciptaanNya  ketika berdiri, duduk, maupun tidur – mereka dipuji Allah sebagai orang-orang yang memahami setiap inti persoalan -ulul albab (QS 3:190-191), dan orang-orang inilah yang akan diberi kebaikan yang banyak – yaitu hikmah (QS 2 :269).

Jadi termasuk yang mana kita ? secara umum melihat gejala yang ada – setiap tahun ada musibah asap, banjir, kekeringan yang silih berganti – nampaknya kita belum memahami dengan baik ayat-ayatNya itu.

Dua musibah yang saat ini terjadi adalah musibah asap yang setiap tahun semakin memburuk, juga musibah kekeringan – yang konon karena efek El-Nino bisa berlangsung sampai akhir tahun. Keduanya tidak menjadi musibah seandainya kita bisa memahami ayat-ayatNya.

Demikian pula masalah kekeringan, tidak akan menjadi musibah seandainya kita bisa memahami ayat-ayatNya dengan baik. Indonesia adalah negeri besar yang memiliki curah hujan terbesar di dunia.

Dengan curah hujan rata-rata yang mencapai sekitar 2,700 mm/tahun – ini tiga kali lebih tinggi dari rata-rata dunia yang hanya 900 mm/tahun. Ini lebih tinggi pula dari India (1,080 mm), Amerika (715 mm), China (645mm), Brasil (1,750 mm), Argentina (591 mm) dan bahkan Thailand (1,625 mm) – yang secara bersama-sama mereka membanjiri negeri ini dengan produk-produk pertaniannya. Dalam hal curah hujan ini, kita hanya kalah dari dua negara tetangga kita  yaitu Malaysia (2,875 mm) dan Papua Nugini ( 3,140 mm).
(http://data.worldbank.org/indicator/AG.LND.PRCP.MM).

Bahkan kita harus sangat bersyukur diberi berkah hujan yang begitu banyak – yang tidak terbayangkan banyaknya bila kita bandingkan dengan negara-negara seperti Jordan (111 mm), Qatar (74 mm), Arab Saudi ( 59 mm)  dan Mesir yang hanya mendapatkan curah hujan 51 mm per tahun !

Sekering-keringnya wilayah Indonesia yang tergolong kering seperti  Gunung Kidul, masyarakatnya masih mendapat rata-rata 1,950 mm/tahun curah hujan. Sumba Timur yang sangat kering-un masih mendapatkan rata-rata 1,000 mm/tahun. Bandingkan ini misalnya dengan Spanyol yang hanya memiliki curah hujan rata-rata 640 mm/tahun tetapi bisa menjadi pusat revolusi pertanian di Abad pertengahan dan masih menjadi penghasil zaitun terbesar dunia hingga kini. Masyarakat Gaza yang curah hujannya hanya di kisaran 430 mm/tahun, kecukupan pangannya tidak mempan diganggu oleh boikot Zionis Israel yang sudah hampir satu dekade berjalan.

Hujan adalah berkah, di mayoritas ayat yang membahas tanaman di Al-Qur’an – Allah memulainya dengan hujan. Artinya jumlah hujan mestinya berkorelasi langsung dengan kemakmuran atau minimal kecukupan pangan. Bila kenyataannya tidak demikian, maka pasti ada hal yang sangat serius yang harus dibenahi di negeri ini – khususnya dalam menyikapi dan mengelola air hujan ini.

Masihkah kita mengeluh kurang air sekarang ? padahal beberapa bulan lagi setelah hujan tiba kita akan segera melupakan kekeringan rutin ini dan kembali membuang air hujan yang sangat bersih dan tawar ke laut. Padahal Gunung Kidul saja bisa menjadi pusat revolusi pertanian yang lebih dasyat dari Spanyol abad pertengahan, atau Sumba yang bisa menjadi lebih menarik potensi pertaniannya melebihi rata-rata negeri Mediterania ?

Sebegitupun kita melalaikan karunianya yang melimpah berupa sumber energi dan air yang selama ini kita sia-siakan - Dia Yang Maha pengasih masih terus memberi kita jalan keluarNya. Dan untuk musibah asap dan kekeringan panjang itu jalan keluarnya sama – yaitu kita disuruh ber-istigfar !

“Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”” (QS 71:10-12)

Istighfar tentu tidak sebatas ucapan kemudian setelah itu kita membakar hutan lagi dan membuang air hujan ke laut lagi. Setelah kita beristigfar kita harus mengubah pola sikap dan tindak kita dengan 'menanam', terhadap biomassa (ranaman) yang merupakan karunia terbanyak di negeri ini, dan juga berkah dari hujan yang juga termasuk yang terbanyak diberikan ke negeri yang besar ini.

Untuk musibah asap, bersamaan dengan ber-istigfar banyak-banyak – kita juga harus menghentikan membakar hutan atau mencegah terjadinya kebakaran hutan – dengan mengerahkan segenap ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita miliki untuk berikhtiar mengolah biomassa yang ada menjadi salah satu dari Food, Fuel, Fiber, Fodder, dan Feedstock atau kombinasi beberapa diantaranya.

Dengan demikian seluruh biomassa yang ada di hutan kita akan bermanfaat sebagaimana petunjukNya di ayat-ayat tersebut di atas, dan tidak ada lagi yang terbakar percuma yang menimbulkan musibah asap.

Dalam hal air juga demikian, sekering-kering daerah kering di Indonesia – pasti masih lebih banyak hujannya dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang tinggal di  Jordan, Qatar, Arab Saudi, Palestina  dan Mesir tersebut di atas. Dengan sedikit upaya saja insyaAllah kita akan bisa mengelola air hujan yang ada kemudian menggunakannya secara bijak sepanjang tahun.

Wallahu A'lam.

Description: Manusia seharusnya tidak seperti Keledai.
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Manusia seharusnya tidak seperti Keledai.
SelengkapnyaManusia seharusnya tidak seperti Keledai.

Pendusta Agama...?

Posted by Noer Rachman Hamidi on Friday, September 4, 2015


Diam ternyata tidak selalu berarti emas, diam bahkan bisa berarti dusta. Kapan diam kita menjadi dusta ? salah satunya yaitu ketika kita tahu ada kelaparan di sekitar kita dan kita diam (QS 107:3). Sampai sekarang FAO masih memajang di head line country report untuk Indonesia, bahwa ada 60 juta orang “…go bed hungry every night…” di Asia Tenggara dan hampir sepertiganya di Indonesia.

Masalah tuduhan pendusta agama ini adalah tuduhan yang sangat-sangat serius karena yang menuduh adalah Dia Yang Maha Tahu – jadi tuduhannya pasti benar. Bila kita tidak menganjurkan saja untuk memberi makan orang miskin – tuduhan itu sudah berlaku untuk kita.

Maka inilah at least yang harus kita lakukan , yaitu menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Mudah kita ucapkan tetapi berapa banyak ini kita lakukan sudah ? sedangkan di sekitar kita ada 19.4 juta orang lapar atau ada 1 orang lapar dari setiap 13 orang dari kita.

Bila tetangga dalam definisi Islam adalah 40 rumah ke depan-belakang-kanan dan kiri atau total 160 rumah, maka rata-rata ada 12 rumah dalam lingkup tetangga kita yang tidur malamnya dalam kondisi lapar. Dan bisa jadi mereka adalah tetangga kita... Na'udzubillah...

Ketika para ahli pakan ternak mengkonversi biji-bijian seperti jagung- kedelai dlsb menjadi pakan ternak, yang terjadi adalah shortage pangan bagi manusia.

Ketika para ahli energi mengubah penggunaan jagung menjadi bioethanol, masyarakat yang bahan pokok pangannya jagung sampai melakukan huru hara karena menjadi sangat mahalnya harga bahan pokok mereka.

Begitupun juga....
Ketika para pejuang lingkungan hendak mengurangi pencemaran di muka bumi dengan mengganti bahan –bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari seperti penggunaan plastic dlsb. yang terjadi justru meningkatnya bahan baku dari nabati – yang membutuhkan lahan yang luas untuk penanamannya, butuh air yang banyak untuk pertumbuhannya dst.

Walhasil...
Ketika manusia berusaha mengatasi masalahnya bidang demi bidang, masalah yang ditimbulkan di bidang lainnya malah bisa menjadi lebih besar dari masalah yang dicoba atasi.

Maka manusia membutuhkan petunjuk dari yang mengetahui seluruh sisi dari setiap persoalan, tetapi siapa yang mengetahui seluruh sisi ini ? Dialah Yang Maha Tahu ! maka petunjuk dari Dia Yang Maha Tahu tentu sudah meliputi segala sisi yang terkait.

Bahkan jawaban untuk segala macam persoalan itu termasuk hal yang dijanjikannya :  “…Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk,  serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)”. (QS 16:89)

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana konkritnya Al-Qur’an memberi petunjuk agar semua kebutuhan manusia yang tercakup dalam 5F, yaitu: Food, Fuel, Fiber, Fodder and Feedstock.
Dan bagaimana 5F tersebut tercukupi dengan seimbang ?

Ada satu surat di Al-Qur’an yaitu surat An-Nahl yang juga disebut surat An-Ni’mah karena berisi sejumlah nikmat yang diberikan oleh Allah untuk manusia. Di surat inilah antara lain terdapat seluruh jawaban untuk kebutuhan manusia – termasuk di dalamnya 5 F tersebut.

Bila saja kita mau mengikuti petunjuk di surat ini – dan juga detilnya di surat-surat lainnya, maka manusia tidak akan pernah bingung dalam menggunakan lahan dan produk hasil buminya – karena semuanya sudah ada alokasinya masing-masing.

Food,
Untuk makanan (Food), alokasinya adalah dari tanaman-tanaman semusim seperti padi-padian, biji-bijian dan buah-buahan dari tanaman menahun (QS 16 :11). Manusia juga dapat jatah makan  dari daging ternak dan bahkan juga dari susunya (QS 16:66). Masih kategori makanan adalah juga obat-obatan seperti madu ( QS 16: 69).

Fuel,
Untuk bahan bakar (Fuel), alokasinya adalah  dari tanaman juga, khususnya buah-buahan tertentu seperti zaitun dan bahkan kurma dan anggur (QS 16:11 dan 67). Ketiganya bisa dimakan sebagai makanan prioritasnya, tetapi bisa juga jadi bahan bakar bila diperlukan dalam kondisi tertentu.  Bahkan bahan bakar fosil kita kini juga dahulunya adalah dari tanaman – jutaan tahun lalu.

Zaitun bisa digunakan sebagai bahan bakar secara eksplisit juga dijelaskan di surat lain (QS 24:35), sedangkan kurma dan anggur bisa jadi bahan bakar tersirat di ayat yang berbunyi : “…Dan dari buah kurma dan anggur kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik…” (QS 16:67)

Bila kurma dan anggur dibuat minuman yang memabukkan – alcohol , maka memproduksi dan menjual belikannya –pun tidak boleh. Tetapi bagaimana bisa menjadi rezeki yang baik ?

Selain dimakan buahnya dan itu rezeki yang baik, ketika produk melimpah dan melebihi kebutuhan untuk makanan, maka buah-buah tersebut bisa diproses menjadi alcohol atau ethanol – bukan untuk diminum  – tetapi untuk bahan bakar. Memproduksi sampai jual beli bahan bakar tentu saja boleh, dan ini menjadi komoditi yang sangat vital di jaman modern ini – siapa yang menguasainya, mereka akan menguasai porsi rezeki yang baik itu.

Fiber,
Untuk Fiber atau serat yang disebut secara eksplisit adalah serat dari wool (domba), bulu binatang seperti kambing dan unta (QS 16:80). Yang disebut secara tersirat adalah serat yang digunakan lebah untuk membangun rumahnya (QS 16:68), karena lebah membuat rumah dari remah-remah dedaunan atau pepohonan.

Fodder,
Untuk Fodder atau pakan ternak adalah rumput di padang gembalaan yang tumbuh diantara pepohonan dan di tempat turunannya hujan (QS 16:10), maka kalau sumber utama daging kita adalah dari ternak yang digembalakan – tidak akan ada rebutan antara biji-bijian untuk makanan manusia dan biji-bijian pakan ternak. Biji-bijian utamanya untuk manusia, rumput-rumputan untuk ternak – jelas pembagiannya.

Feedstock,
Untuk Feedstock atau bahan baku yang disebut secara khusus adalah kulit binatang (QS 16:80) – yaitu untuk bahan rumah ketika kita dalam perjalanan maupun selagi menetap. Yang disebut secara umum bisa apa saja yang bisa digunakan sebagai bahan baku  untuk memenuhi kebutuhan manusia baik papan, sandang maupun lainnya (QS 16:81).

Karena masing masing jenis kebutuhan sudah ada alokasinya , tidak akan ada tumpang tindih antara satu kebutuhan dengan kebutuhan lainnya. Kita butuh material untuk membangun rumah dan membuat pakaian misalnya, tidak perlu berebut lahan dengan kebutuhan untuk tanaman pangan.  Semua bisa saling mengisi di satu hamparan lahan yang sama.

Ketika di suatu lahan pertanian kita menanam berbagai pohon buah, disitu juga tempat kita menggembala. Pohon buahnya menjadi berbuah banyak dengan adanya kotoran hewan, dan untuk pohon berbuah banyak dibutuhkan banyak penyerbukan yang utamanya menggunakan lebah. Buah banyak akan sejalan dengan madu banyak, dan beeswax atau lilin lebah yang banyak – yang terakhir ini bisa menjadi bahan baku yang semakin berharga.

Dari kombinasi ini sudah terjawab kebutuhan Food (termasuk obat), Fiber, Fodder dan sebagian Feedstock. Ketika kombinasi buah-buahan kita tambah dengan pisang, maka buahnya menambah Food, batangnya menjadi tambahan bahan baku atau Feedstock seperti bahan-bahan yang menjadi focus riset kami saat ini di bidang bioplastic, tree-free paper dan biocomposites.

Bila buah-buahannya kita tambah tiga buah spesifik yang disebut di ayat 11 dari Surat yang sama (An-Nahl) yaitu zaitun, kurma dan anggur ; maka tambah lagi pemenuhan kebutuhan Food itu dan satu lagi masalah terjawab yaitu Fuel. Ekses produksi zaitun bisa menjadi biodiesel, sedangkan ekses produksi anggur dan kurma menjadi bioethanol.

Maka demikianlah kebutuhan manusia bisa terjawab semuanya melalui petunjukNya dan bumiNya. Bumi insyaallah cukup untuk kita semua tinggal dan makmur didalamnya – bila kita mampu mensyukurinya - tidak kurang satu jengkalpun yang tersia-sia, insyaAllah.

Agribisnis Indonesia
www.agribisnis-indonesia.com Description: Pendusta Agama...?
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Pendusta Agama...?
SelengkapnyaPendusta Agama...?

Grafik Harga Dinar terhadap Rupiah